Total Tayangan Halaman

Jumat, 05 April 2013

Tiga Jalan

Asap rokok yang kau tiup beterbangan di depanku. Menyerupai gumpalan awan putih yang menari-nari di langit yang biru. Biru. Sebiru hatimu. Atau mungkin bahkan sebiru hatiku.
" Aku tak mengerti... Awalnya ini tak pernah menjadi masalah buat kami..." kamu mengeluh. Lagi.
" Lima tahun yang lalu dia bilang ini bukan masalah besar... " kamu melanjutkan.
Aku menenggak minuman di mejaku. Sodanya jadi terasa lebih dingin dari yang kubayangkan. Aku belum ingin menyela kamu. Aku cuma ingin jadi pendengar. Selalu.
" Coba kamu pikir, Ros... Keluargaku sudah datang baik-baik. Kami sudah mengutarakan baik-baik kalau aku ingin melamar anak mereka. Aku tidak menyangka di rumah itu mereka akan menolak aku, mamaku, papaku padahal selama bertahun-tahun aku selalu datang ke rumah itu baik-baik kalau ingin ketemu anak mereka..... " kata-katamu mengalir bagaikan aliran sungai menuju ke hulu. Aku tetap diam.
" Memang mereka pikir aku dan dia ngapain? Memang mereka pikir aku selalu mengantar dan menjemput anak mereka ke mana saja selama lima tahun itu cuma sekedar sebagai teman bermain? Memang mereka pikir aku selalu ada setiap anak mereka membutuhkan aku itu cuma sekedar sebagai sukarelawan? " kamu semakin deras berkata-kata. Hingga aku kesulitan membedakan kamu sedang berkeluh kesah atau justru sedang menceracau.
" Aku tidak habis pikir, Ros. Mereka begitu baik selama ini. Lima tahun. Apakah aku yang salah menafsirkan kebaikan sebuah keluarga kepadaku selama lima tahun? " kamu sepertinya membutuhkan jawaban. Maka setelah menggeser tempat dudukku agar lebih dekat ke meja, akupun mulai berpikir rangkaian kalimat apa yang sebaiknya keluar dari mulutku. Aku tidak ingin membuatmu kecewa dengan kata-kataku yang amburadul. Aku ingin kamu tenang setelah mendengar saranku. Aku ingin kamu tidak lagi bergejolak setelah aku selesai bicara. Tapi... Apa yang harus kukatakan padamu?
" Keyakinan. Hhhhuufff......... Ternyata semua ini tentang keyakinan... " kamu kembali bersuara.
Akupun kehilangan kesempatan menjadi penasehat spiritual terbaikmu. Tapi aku tetap menunggu apalagi yang akan kau katakan. Aku yakin begitu banyak hal berkecamuk dalam dada dan otakmu hingga kamupun kesulitan untuk membedakan mana yang sampah dan mana yang berharga.
" Kamu tahu, Ros, buat aku dan keluargaku, keyakinan itu anugerah bukan masalah. Keyakinan adalah suatu hal berharga yang keluar dari hati dan bukan untuk diperdebatkan. Keyakinan juga bukan warisan turun temurun jadi setiap manusia boleh menguji hatinya sebelum menentukan apa yang akan diyakininya. Ternyata buat mereka dan dia, keyakinan adalah sebuah harga mutlak.... Tak bisa ditawar... Bahkan bila aku bisa mempersembahkan bumi dan langit untuk diapun, mereka tetap akan menolak aku... Karena aku tak bisa mengganti apa yang kuyakini dengan apa yang mereka yakini.." semakin deras kalimat demi kalimat yng kau muntahkan. Maka aku sebaiknya memang cuma jadi tempat sampah saja dan kurasa itu memang yang terbaik untuk saat ini. Tidak ada air mata di pipimu karena aku tahu kamu bukan perempuan. Kamu tak akan menangis melolong-lolong bagai serigala di malam bulan purnama. Kamu juga tak akan berkaca-kaca karena menahan sakit dan kecewa di hatimu yang menganga. Kamu adalah laki-laki yang kuat. Kamu pasti akan tegar setegar gunung es di laut Antartika. Maka akupun tak perlu menggenggam tanganmu untuk memberimu kekuatan. Aku juga tak perlu merelakan bahuku untuk memberimu ketenangan. Tak perlu. Walaupun aku ingin. Maka malam inipun berakhir tanpa derai air mata. Maka malam inipun berlalu seperti yang sudah-sudah. Saat rokok dalam kotak  yang kau bawa telah habis menjadi gumpalan awan maka kamupun pulang. Pergi meninggalkan aku dalam kesunyian. Selalu begitu. Selalu.


                                             ***************************************


Aku memandang wajah laki-laki itu dalam cermin di hadapanku. Rasanya semua sudah rapi. Aku selalu ingin punya cambang, kumis tipis dan janggut di wajahku. Tapi entah mengapa, aku selalu merasa tak sesuai dengan bentuk mukaku. Malam ini adalah malam kesekian kalinya kamu mengajakku bertemu. Pastilah untuk mendengar keluh kesahmu lagi. Peristiwa gagalnya acara lamaranmu saat kamu meminang Yeni, pacarmu sejak lima tahun yang lalu, seakan-akan adalah berita buruk kepada dunia, sehingga kamu sepertinya merasa perlu mengatakannya berulang-ulang selama bermalam-malam kepadaku. Sebetulnya, aku tak suka tema pertemuan semacam ini. Aku merasa cuma diperlukan sebagai  kantong plastik yang saat terbuka harus siap menerima muntahan pembukanya saja. Aku bosan mendengar cerita yang sama harus kudengar berkali-kali dengan intonasi yang sama pula. Aku capek harus jadi perokok pasif yang jelas itu sangat membahayakan kesehatan paru-paruku karena harus duduk di depanmu saat kamu menyedot rokokmu sampai kemasannya lumat. Tapi kamu membutuhkan aku. Kamu membutuhkan aku untuk menjadi telinga ketiga dan keempatmu, mendengar, menampung dan menelan semua yang keluar dari mulutmu. Mulai dari pujian, keluhan hingga sumpah serapah. Dan itupun sudah terjadi lebih dari lima tahun. Lebih lama dari saat kamu mengenal dan berpacaran dengan Yeni. Lebih lama. Tapi kamu tak pernah meraba hatiku. Kamu tak pernah tahu sesuatu yang kusimpan jauh-jauh dan kukunci rapat-rapat dalam sanubariku yang dalam. Terdalam. Aku tak ingin merusak komitmen di antara kita. Persahabatan. Biarlah, cuma aku yang tahu. Kamu, tak perlu.

Aku sudah memarkir motorku di halaman parkir cafe langganan kita. Sejak kita kuliah sampai bekerja kita selalu menghabiskan waktu di cafe ini. Soda menjadi pilihanku dan kopi dengan krim dan gula coklat selalu menjadi favoritmu. Aku melangkah masuk dan membayangkan kamu pasti sedang bermain gumpalan awan putih seperti biasa. Tapi langkahku tercekat. Ternyata tidak untuk saat ini. Perempuan di depanmu terlihat sembab dan berlinang air mata. Kedua tangannya menyangga kepala. Mungkin beban kepalanya kebanyakan sehingga kelihatan begitu berat. Aku melangkah maju pelan-pelan. Aaaahh.. aku tak habis pikir mengapa kamu menyuruhku datang ke tempat ini dalam keadaan yang tidak biasa... Aku bingung. Harus memenuhi undanganmu untuk menemui kamu seperti yang kau tulis dalam messengermu atau membalikkan badan dan pulang. Tiba-tiba kamu menoleh ke belakang. Sedetik kemudian kamu melambaikan tangan menyuruhku datang. Akupun mendekati meja kalian berdua.
" Hai, Ros... Apa kabar? " perempuan itu, Yeni namanya, menyapaku dengan suaranya yang masih diiringi sedu sedan. Akupun tersenyum lalu menarik kursi  di sebelahmu.
" Kabar baik " jawabku sambil mencoba tersenyum lagi.
" Yeni bilang, dia akan menikah bulan dua belas... " kamu memecah keheningan. Suaramu terdengar tawar. Aku memandang perempuan di hadapanmu. Yeni memang tampak begitu lembut. Penampilannya bersahaja dan sopan. Jelas, dia adalah perempuan baik-baik dan terhormat. Aku salut padamu. Kamu memilih seseorang yang tepat untuk kau hujani dengan cinta dan perhatian bahkan kepedihan.
" Ooohh " aku menghela napas. Tak punya pilihan kata-kata untuk menimpali pembicaraan.
" Pulanglah, Yen... Sudah tak ada gunanya lagi kita bersama-sama seperti dulu. Aku tidak mau kita menikah tanpa restu orang tua. Aku tidak ingin mengawali rumah tangga dengan kebencian. Apalagi jika kebencian itu datangnya dari orang tua. Jangan, Yeni.. " kamu mulai memecah keheningan.
" Tapi aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak kucintai... Aku ingin kita, bukan dia.. " perempuan yang kau cintai juga bersuara. Isak tangispun kembali pecah walaupun begitu pelan, begitu lembut.
" Mengapa kita ada di dua jalan yang berbeda.. Mengapa kita tidak bisa menyatukan dua jalan itu di ujungnya... Mengapa kamu ada di sini dan aku ada di sana... " perempuan itu menelurkan pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu dijawab karena mungkin memang tak pernah ada jawabannya.
" Aku... Ikhlas... Jika memang menurut ibu dan bapakmu itu bisa membuatmu bahagia, aku yakin, pasti akan seperti itu kenyataannya... Percayalah, Yen... " kamu mengusap tangan perempuan itu. 
" Pulanglah, Yen... Beri aku undangannya.. Aku dan Erros pasti akan datang... Tanggal dua puluh dua kan? " kamu begitu kuat. Begitu tenang. Seolah-olah kamu minta diundang ke acara ulang tahun ke tujuh belas seorang anak es-em-a saja. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Heran. Beberapa menit kemudian kamupun mengantar perempuan itu ke pintu keluar. Aku memandang punggungmu dan punggungnya dari kejauhan. Patah. Pasti berkeping-keping. Hancur. Pasti berantakan. Kubayangkan hatimu terbuat dari kristal dan seseorang membantingnya. Walaupun dibanting dengan lembut tapi pasti kristal itu akan cerai berai. Dua jalan. Seperti itulah jalanmu dan jalannya. Mungkin bahkan tiga. Karena ada aku di jalan berikutnya. Tiga jalan yang tak akan bisa menyatu di ujung-ujungnya. Semua karena keyakinan, seperti yang sering kau katakan. Bahkan walaupun aku mungkin menyayangi kamu lebih lama dari perempuan itu, aku tetap tak bisa menyatukan jalan kita. Karena aku tahu kamu pasti akan menolakku. Karena aku tahu kamu pasti menjawab keyakinan kita tak akan memperbolehkan jalanku dan jalanmu menyatu. Seperti jalanmu dan jalannya. Biarlah tiga jalan itu mengikuti arah dan kelokannya masing-masing. Mungkin memang tak digariskan itu bertemu di satu titik, namun setidaknya mampu memberikan warna bagi hidup kami masing-masing.


06-04-2013

Senin, 11 Maret 2013

Dia, Laki-laki Pilihanku

Dia, laki-laki pilihanku. Yang nyaris selama lima belas tahun menemaniku. Tanpa kata-kata romantis, bahkan sejak kami berpacaran dulu hingga saat dia memintaku untuk menjadi istrinya sekalipun. Tanpa hadiah dan kejutan di hari ulang tahunku maupun ulang tahun pernikahan kami. Tanpa pujian sekaligus tanpa celaan untuk setiap busana yang kupilih untuk kukenakan.

Dia, laki-laki pilihanku. Yang tak pernah mengirimiku surat cinta sampai sms mesra. Tak pernah ada dalam kamusnya sebutan, " lady first...". Tak pernah ada dalam rencananya untuk membuat makan malam spesial dengan lilin temaram dan menu favoritku. Tak pernah ada dalam keinginannya untuk menuliskan kata-kata indah dalam status jejaring medianya yang khusus diperuntukkan bagiku. 

Dia, laki-laki pilihanku. Yang semua acara televisi favoritnya juga menjadi favoritku. Semua makanan kesukaannya menjadi kesukaanku. Semua kegemarannya bahkan menjadi kegemaranku. Semua pilihannya seolah adalah yang tercocok untukku. Semua keinginannya serta merta akan menjadi keinginanku.

Dia, laki-laki pilihanku. Yang aku selalu bisa membaca jalan pikirannya, dan selalu ku usahakan untuk bertemu dengannya di ujung jalan itu. Yang aku selalu berusaha untuk menerima semua rangkaian kalimatnya yang kadang berseberangan dengan rangkaian kalimatku. Yang aku selalu mencoba untuk membunuh luapan emosiku demi agar selalu bisa bersanding dengannya. Yang aku selalu ingin untuk bilang "iya.." karena aku tahu itu akan membuatnya bahagia.

Dia, laki-laki pilihanku. Yang mampu membuat rasa sakit menjadi tegar. Yang sanggup membungkus takut menjadi percaya. Yang dengan gagah berani menyulap khawatir menjadi yakin. Yang bisa merubah jujur menjadi cita-cita.

Memilihnya : Aku, tak pernah menyesal. Aku, tak pernah kecewa. Aku, tak pernah ingin pergi darinya. Aku tak pernah akan menyudahinya. Aku bahagia. Karena aku mencintainya. 

Dia, laki-laki pilihanku. Yang kepadanya akan kugantungkan seluruh hidupku. Kepadanya akan kuserahkan semua mimpiku. Kepadanya akan kuberikan segala doaku. Kepadanya akan kupersembahkan seribu harapku.

Hingga aku tua renta dan membusuk dalam tanah.


11-03-13

buat kamu yang benci kata-kata puitis, buat kamu yang anti roman picisan, buat kamu yang mengidealkan realita dan keyakinan pada Tuhan di atas segala-galanya.... rencananya buat ultahmu di bulan April, mas......






Sabtu, 23 Februari 2013

Hatiku, Hatimu, Hati Kita Berdua

Bagi sebagian orang, mungkin kesempurnaan adalah memiliki semua yang kita inginkan dan kita butuhkan dalam hidup ini. Namun, tidak, untukmu. Kamu bilang, tidak sempurna itulah sempurna. Kamu bilang, ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan itu sendiri. Sebenarnya buatku, kesempurnaan itu adalah kamu. Bertemu denganmu di tempat inilah yang membuatku merasa bahwa hidupku yang tak sempurna telah menjadi sempurna. 

"Selamat pagi semuanya..." selalu itu kalimatmu setiap membuka hari. Seperti biasa, renyah dan bening. Lalu kamu akan tersenyum seindah senyum bulan purnama dan sesaat kemudian aku akan merasa, pagi ini sungguh menakjubkan. 
" Mari kita awali pagi ini dengan bersyukur karena Tuhan mempertemukan kita dalam keadaan sehat.." kamu mulai memperpanjang kalimat pembukamu. Dan entah mengapa, setiap kamu bicara, dua puluh tiga manusia di ruangan ini tak ada yang mampu berkata-kata. Suasana selalu hening dan semua mata tertuju kepadamu tanpa syarat. Kamu, mampu membuat aku dan mereka semua, diam dengan penuh keikhlasan. Setelah itu maka semua rutinitas hari ini dimulai. Hingga bel berdentang menandakan pertemuan kita harus segera berakhir. Maka itulah sebabnya, kadang aku benci suara bel di tempat ini yang bagiku suaranya sangat memekakkan telinga, namun kadang aku justru menanti-nanti suara gaduhnya jika kelak suara itulah yang akan mempertemukan kita berdua.

" Rama belum pulang? " tiba-tiba kamu sudah berdiri di belakang punggungku. Aku tersentak kaget. Lalu aku menggeleng. Aku selalu tak mampu berkata apa-apa untuk menjawab tegur sapamu.
" Mau saya antar? Tujuan pulang kita searah kan? " tanyamu lagi. Masih dengan tutur katamu yang halus.
" Tidak, terima kasih " jawabku singkat. Namun sedetik kemudian aku mengutuk diriku sendiri. Mengapa aku menolak ajakanmu? Mengapa aku tidak mau menerima tawaranmu yang terdengar tulus? Bukankah hal yang paling kuimpikan adalah duduk di sebelahmu dalam keadaan kita hanya berdua saja? Ah....
" Baiklah... Saya pulang duluan ya.." kamu tersenyum lagi dan mulai melangkah menjauhiku menuju pelataran parkir, meninggalkan aku yang berdiri termangu. Tuhan, kuatkan hatiku.... Apakah aku telah membuatnya kecewa? Tuhan, aku janji, besok, apapun yang dia minta, aku takkan menolaknya lagi....

                                                            ***********************

Hari ini hari ulang tahunmu. Berbulan-bulan aku menunggu datangnya hari ini. Aku selalu berharap hari ini aku bisa membuatmu bahagia. Maka aku sudah menyiapkan kejutan kecil untukmu. Tiga puluh tiga malam tiga puluh menit aku mempersiapkan kado ini. Berharap kadoku takkan sama dengan kado-kado lain yang mungkin kau terima hari ini. Aku yakin, orang seperti kamu yang cantik, lembut dan baik hati tentu akan kebanjiran hadiah di hari ulang tahun. Bergegas aku menenteng gitarku di samping tas ranselku yang lumayan berat.  Dan saat bel kembali berdentang, itulah tandanya kita akan segera bertemu pagi ini.
" Happy birthday to you........ Happy birthday to you... " sontak seisi kelas menyanyikan lagu untukmu. Di tangan salah satu temanku ada sebuah roti tart berlapis coklat dengan buah chery yang mengelilinginya dan sebuah lilin berukir angka 27 yang membara.
" Aduuuhh... Terima kasih... Saya tidak... tidak menyangka bahwa kalian semua.... kalian semua ingat hari ulang tahun saya... " suaramu terdengar terbata-bata. Sepertinya kamu tak siap dengan kejutan ini.
" Rama.... " tiba-tiba kamu memanggilku yang masih duduk di pojok ruangan. Aku memang selalu di sini. di pojok ruangan ini. Aku selalu sendiri dalam keriuhan. Tapi aku bahagia, karena di pojok ini aku tak pernah terusik ketika memandangimu. Meski dari kejauhan.
" Ayo sini... Bergabunglah dengan kami... " kamu melambaikan tangan padaku. Aku bingung. Bila aku menggeleng, maka hilanglah sudah kesempatanku untuk mempersembahkan hadiah terindahku ini untukmu. Maka sia-sialah sudah beratus-ratus jam, berribu-ribu bahkan mungkin berpuluh ribu menit dan detik yang telah kuhabiskan demi mempersembahkan kado ini. Atau... Jangan-jangan memang hadiah ini takkan berarti apa-apa untukmu selain hanya menjadikanku bahan cemoohan dan ejekan saja seperti yang selalu kualami setiap hari?

Tidak!!! Aku harus berani. Mempersembahkan kado ini untukmu adalah cita-citaku sejak pertama kali kita bertemu. Dan menunggu datangnya hari ini adalah hal yang paling kuimpikan selama berbulan-bulan. Maka dengan tertatih-tatih aku menyeret gitarku ke depan. Aku tak perduli dengan sindiran dan kata-kata yang membuat kupingku panas, yang terlontar dari seisi ruangan.
" Waaaahhh Rama mau nyanyi nih....... "
" Oh bukan-bukan... Dia mau ngamen cari tambahan uang saku kaleee... "
" Awass bung, hati-hati.. Tar gitarnya jatuh lho..."
" Ciee... Ternyata di kelas kita ada satria bergitar euy!! "
Aku tak peduli dengan semua cibiran dan hinaan mereka. Aku bosan dipermalukan. Dan hari ini aku cuma ingin melihatmu tersenyum lebih lama dari yang biasanya. Terseok-seok aku terus berjalan ke arahmu, kuanggap mereka anjing menggonggong dan akulah kafilah yang tetap berlalu. Ukuran kakiku yang tidak sama serasa menghambatku untuk menambah kecepatan berjalanku. Ahh... Seandainya kakiku sama dengan mereka... Tentu dalam hitungan detik aku sudah berdiri di depan ruangan,  di sampingmu saat ini.....
" Sudah, sudah... Berilah kesempatan untuk temanmu... " maka kamu selalu punya cara untuk membuat mereka diam. Tanpa syarat. Seperti biasa.
Aku menghela nafas. Panjang. Rasanya satu tarikan nafas bisa membuatku lebih tenang. Aku mulai memetik gitarku.

                                                        tak pernah ku menyangka
                                                        bisa bertemu kamu di sini
                                                        indah seindah bidadari
                                                        lembut selembut embun pagi
                                                        aku selalu mengira
                                                        aku takkan pernah bahagia
                                                        karena aku tak sempurna
                                                     
                                                        tapi bertemu denganmu
                                                        membuatku merasa keliru
                                                        katamu tidak sempurna
                                                        adalah sempurna
                                                        tahukah kamu
                                                        aku bahagia
                                                        teramat sangat

                                                        bila semua bahagia ini
                                                        tak bisa terucap oleh kata
                                                        tak bisa terwujud dalam makna
                                                        biarlah aku cukup menyimpannya sendiri
                                                        di dalam hatiku...
                                                        hatimu....
                                                        hati kita berdua........


Akhirnya lantunan lagu ini berakhir. Nafasku terengah-engah seolah-olah aku telah berlari menghabiskan ratusan kilometer. Baru kusadari suasana begitu hening. Aku menunduk. Aku tak berani menatap kamu dan mereka. Mendadak keberanianku hilang dan berganti dengan rasa malu yang luar biasa. Tuhan... Bila saja KAU ingin menjebloskan aku ke perut bumi, sekarang saja lakukakanlah....

"Rama..... Terima kasih.... " suaramu terdengar terbata-bata lagi. Aku memberanikan diri menengadah. Aku ingin tahu apakah kamu suka atau malah muak dengan hadiahku ini.
" Kamu telah memberikan hadiah terindah untuk ibu.... Seumur hidup ibu belum pernah menerima hadiah seindah ini... " katamu dengan lancar. Matamu berkabut. Suaramu bergetar walau tak lagi tersendat. Kamu membentangkan kedua tanganmu bagai peri. Lalu kamu merengkuhku dalam pelukanmu. Bahumu terguncang-guncang hebat. Aku bahagia. Sungguh.

                                                    **********************

Namaku Rama. Usiaku empat belas tahun. Aku duduk di bangku sekolah menengah pertama di sebuah sekolah negeri yang memiliki program inklusi untuk anak-anak tak sempurna seperti aku.Aku memang satu dari seratus orang di tempat ini. Bila ada yang bertanya, mengapa aku bersikeras ingin ada di tempat ini dan bukan di tempat yang menyediakan fasilitas khusus untuk anak-anak yang juga berkebutuhan khusus seperti aku, maka aku akan bilang, di tempat inilah aku mencari bahagia. Di tempat yang penuh cibiran, hinaan, sindiran dan cemoohan inilah aku mencari ketulusan. Dan bila ketulusan itu tak bisa terucap oleh kata, tak bisa terwujud oleh makna, biarlah aku menyimpannya sendiri. Di hatiku. Hatimu. Hati kita berdua.




24-02-2013
                                                    


                                                        



Selasa, 19 Februari 2013

Rindu Setengah Mati

Mungkin buatmu, sembilan tahun meninggalkan aku bukanlah hal yang sulit. Toh kamu bisa saja bilang, takdirlah yang telah memisahkan kita sebagaimana dia mempertemukan kita pada mulanya. Aku selalu tahu bahwa hidup selalu punya kejutan bagi setiap manusianya. Namun aku tak pernah menyangka bahwa kejutan yang seperti inilah yang harus kuterima. Berpisah denganmu setelah pertemuan dan kebersamaan kita yang dijatah oleh pemilik kehidupan cuma delapan belas bulan saja.

                                                                  ********************

Malam yang seharusnya hening. Tapi tangisanmu tak juga reda. Bahkan setelah kita pulang dari tempat praktek dokter langgananmu dan kamupun sudah minum obat sesuai resep yang tertera. Badanmu tetap demam. Tinggi. Jarum di termometer hampir menyentuh angka empat puluh. Aku resah. Gelisah. Tak pernah kamu sepanas ini. Dibanding kakakmu yang sakit-sakitan sejak bayi, kamu hampir-hampir tak pernah sakit sejak lahir hingga malam ini. Aku mencoba untuk tidur. Tapi tak bisa. Mana bisa seorang ibu tertidur jika anaknya sedang sakit? Apalagi disertai demam dan dokter yang kuberondong pertanyaan berbalut kecemasan karena demammu sudah masuk hari ke-empat hanya menjawab tenang, " Putri ibu cuma radang tenggorokan biasa.."
" Dik, tidurlah... Biar aku yang menjaga Fafa" suamiku menyuruhku untuk berbaring.
Aku menggeleng, " Nggak mas... Dia panas.. " keluhku.
Hingga fajar menyingsing, aku memang tak sempat memejamkan mata walau sejenak. Demam Fafa memang tak kunjung turun. Bahkan untuk sarapan bubur kegemarannya dia tak mau. Tangisnya makin menjadi-jadi. Fafa cuma mau susu saja. Sejak malam hingga pagi dia sudah menghabiskan lima botol dot ukuran dua ratus empat puluh mili. Mungkin dokter benar, radang tenggorokannya membuat tenggorokannya kering sehingga dia cenderung hanya mau minum susu saja.
" Biar hari ini aku nggak usah kerja ya..." suamiku berkata dengan nada bertanya.
" Jangan mas... Nggak apa-apa.. Setelah Fafa minum puyernya mas berangkat saja. Mudah-mudahan siang nanti demamnya sudah turun" sergahku. Aku ini ibunya, masa aku tidak mampu menjaga anakku yang cuma radang tenggorokan biasa? Hatiku menggerutu. Meski mataku berat luar biasa. Dan setelah punggung suamiku tak nampak lagi maka akupun tinggal di rumah bersama Fafa dan kakaknya, sulungku.
Seperti kebanyakan ibu dan anak-anaknya yang masih balita, kamipun bermain seperti biasa. Walaupun demam tingginya belum turun Fafa tetap gembira main petak umpet dengan aku dan kakaknya. Namun tawa kami tiba-tiba lenyap karena Fafa mendadak rewel.... Jari telunjuknya sibuk menunjuk-nunjuk ke langit-langit kamar kami.... Dia menangis, menangis dan menangis... Aku dan sulungku kebingungan. Aku sibuk menggendong Fafa hilir mudik keluar masuk kamar... Sepertinya Fafa keberatan untuk tetap di kamar. Dia masih menunjuk-nunjuk ke langit-langit seperti tadi.
" Ada apa dik? Ada apa? " sulungku bertanya dengan wajah bingung karena di langit-langit tak ada apapun kecuali lampu kamar yang padam karena hari belum gelap. Bagaikan terkena badai hatiku tiba-tiba merasa kaget dengan perubahan yang terjadi pada Fafa. Secara mendadak tubuhnya mengejang. Kaku. Matanya redup. Dan kurasakan panas tubuhnya menjadi dingin. Aku melihat telapak kakinya. Biru. Ya Allah!!! Seperti manusia kesurupan aku keluar rumah dan berteriak memanggil siapa yang bisa kupanggil. Dan dalam sepersekian menit aku sudah berada di dalam mobil tetangga menuju rumah sakit terdekat. Waktu berjalan cepat saat itu. Hingga akhirnya............
" Dik, ikhlaskan ya... Anak kita sudah pergi...... " suamiku yang tertunduk lesu di sebelahku di ruang ICU menatap dokter yang telah melepas alat bantu pernapasan dari tubuh Fafa. Pneumonia. Nyaris selama empat hari sepuluh jam Fafa berjuang melawan penyakit yang tak terdeteksi itu. Entahlah bagaimana dokter jaman sekarang, penyakit seberat itu kok tak bisa tercium gelagatnya. Aku ingin marah tapi buat apa? Pada siapa?
Sejenak aku merasa duniaku runtuh. Aku ditimpa bumi. Aku ditelan lautan. Aku dihanguskan oleh gunung berapi. Aku lemas. Dan saat aku ingat aku sudah terbaring dalam kamar yang lain. Aku segera keluar. Aku ingin lihat Fafa. Aku ingin memastikan dia memang sudah tak ada. Dia sudah pergi. Dan setelah itu tentu segalanya tak lagi sama seperti tadi pagi, seperti kemarin, seperti dulu. Kamu bahkan belum bisa memanggilku, ibu, saat itu.  

Rasanya aku masih bermain bersamamu hari ini. Aku masih mencium bau rambutmu, wangi tubuhmu dan pipi tembemmu, Aku masih menyimpan sejuta cita-citaku untuk masa depanmu. Bila gundukan tanah rumah barumu ini tiba-tiba terbuka mungkin aku akan masuk dan meraihmu kembali.

Dan kini aku cuma bisa dicekam rindu bila mengingatmu.

Rindu setengah mati.

                                                           



Jumat, 15 Februari 2013

Cinta Sepanjang Masa

Pagi. Aku masih duduk di tepi tempat tidur. Seperti biasa, rutinitasku diawali dari melipat selimut yang berantakan. Selanjutnya dengan susah payah aku berdiri dan tongkat setiaku akan membantuku untuk membereskan tempat tidurku yang sepreinya acak-acakan setelah kupakai tidur semalam. Setelah selesai, aktifitas berikutnya adalah meraih remote kontrol AC yang ada dinding dengan tangan kiri karena tangan kananku tak lagi berfungsi. Tiiittt.... Bila bunyi itu sudah terdengar mantap baru aku puas, artinya AC di kamar ini telah mati. Sementara dari dalam kamar aku mendengar suara denting sendok garpu dan itu artinya kehidupan di rumah ini telah dimulai. 

" Titi... pergi dulu... assalammu'allaikum... " suara seorang remaja setengah berteriak muncul di depan kamar. Cucu sulungku. Aku tersenyum. Setelah itu deru sepeda motor dan suara berderit pintu pagar menandakan dia telah berangkat ke sekolah. Biasanya, tak lama kemudian kamu akan muncul dan dengan tergesa-gesa menyuruhku bersiap-siap ke kamar mandi.
" Ayo bu, mandi sekarang" katamu pendek. Wajahmu terlihat sangat capek. Hari baru dimulai dan kamu sudah terlihat loyo. Namun sejujurnya, aku memang tak pernah melihatmu sumringah setiap pagi, tak pernah melihatmu gembira setiap pagi. Seolah-olah pagi hari adalah hal yang tak kauinginkan untuk datang. Mungkin aku penyebabnya. Mungkin melihatku saja sudah membuatmu lelah. Dan aku tahu, kamu memang lelah. Sudah terlampau lelah. 15 tahun kamu mengurusku. Melepaskan masa mudamu yang seharusnya kau nikmati dengan penuh kisah indah. Merelakan waktumu yang seharusnya bisa kau gunakan untuk pergi ke mana saja tempat yang kau inginkan di muka bumi ini. Aku tahu, itu tidak mudah. Sangat tidak mudah. Sekali waktu, sambil memandikan aku kamu seperti mengeluh, " Waktu ibu seusiaku dulu, ibu ke mana saja?"
Aku diam. Tak bersuara. Memang aku takkan mungkin menjawab pertanyaanmu. Dokter-dokter itu telah memotong syaraf bicaraku sehingga pasca operasi aku tak bisa berkata-kata dengan normal.
" Hampir setiap aku pulang sekolah, ibu tak pernah ada di rumah. Ibu selalu pergi. Dua hari, tiga hari, semingggu bahkan dua minggu..." kamu melanjutkan keluh kesahmu. Aaaahh... Aku baru tahu rupanya kamu dulu tak suka dengan semua rangkaian kegiatanku di organisasi.
" Kadang ibu pulang cuma beberapa hari. Lalu pergi lagi. Saat aku perlu ibu, ibu tidak pernah ada " kamu terus menceracau. Dan wajahmu terlihat sangat murung saat itu.
" Tapi... Sekarang... Aku justru tak bisa kemana-mana... Bahkan kalau aku terpaksa harus pergi aku tidak bisa tenang karena selalu kepikiran ibu dan harus segera pulang..." kamu menghela napas.
Aku masih diam. Sambil memainkan gelembung sabun dengan tangan kiriku aku mencoba untuk memutar kembali waktu yang telah berlalu. Seandainya waktu bisa kembali, aku tentu tak akan mengecewakanmu lagi. Aku akan ada saat kau ingin bercerita tentang cinta pertamamu. Aku akan menyediakan pelukanku saat kau menangis karena patah hati. Aku juga akan ikut sibuk saat kau mempersiapkan pernikahanmu. Aku pasti akan menungguimu di rumah sakit sepanjang hari saat kau melahirkan ketiga putrimu. Namun waktu terus berjalan. Kencang dan tak mau lagi menoleh ke belakang. Tinggallah aku di sini bersamamu. Mengganggu ketenangan keluarga kecilmu dengan rutinitasku yang tak mungkin kulalui seorang diri.

                                                        *****************************

Malam selalu datang menjemput keceriaanmu. Kamu selalu terlihat sedikit gembira menyongsong malam. Aku mengerti. Mungkin saat matahari mulai bersembunyi dalam gelap, saat itulah kamu merasa lega karena semua yang melelahkan ini akan berakhir. Walaupun cuma sementara. Ya, karena besok begitu adzan Subuh kembali berkumandang, bagaikan murid-murid di sekolah dasar yang mendengar bel berdentang maka kamupun akan memulai lagi semua kegiatan ini.
" Ayo bu kita berdoa..." lalu kamu mulai memimpin doa sebelum tidur di sebelahku. Namun malam ini sedikit berbeda dengan biasanya. Kamu tak lagi tergesa-gesa menyalakan AC, memasang obat nyamuk elektrik dan mematikan lampu kamar lalu buru-buru mencium keningku sebelum menutup pintu kamar dan keluar.
Tiba-tiba kamu memegang tangan kananku yang tak lagi berfungsi.
" Maafkan aku bu... Aku belum bisa membahagiakan ibu. Belum bisa menyenangkan hati ibu. Belum bisa menjadi seperti yang ibu inginkan... " suaramu terdengar terbata-bata. Ada kabut di matamu yang kelihatan sudah mengantuk.
" Maafkan aku karena aku pernah kecewa pada ibu. Tapi aku sangat sayang pada ibu. Sungguh.." kamu mulai terlihat sibuk mengusap mata dan pipimu. Aku tersenyum. Aku mencoba mengelus kepalamu dengan tangan kiriku. Tahukah kamu nak, aku juga sangat menyayangi kamu? Tahukah kamu nak, aku tak pernah ingin apa-apa darimu? Tahukah kamu nak, justru akulah yang selalu merasa tak bisa menjadi ibu seperti yang kau inginkan? Tahukah kamu nak, aku juga sangat menyesal tak bersamamu saat kamu tumbuh dan melalui masa-masa indahmu dulu?   Tahukah kamu nak, aku bahkan sangaaaaatttt ingin bisa menyebut namamu yang hanya terdiri dari 3 huruf itu agar kamu mengerti bahwa aku berterima kasih untuk semua waktumu yang tersita untukku.

Lalu kamu mencium keningku. Air matamu ikut turun membasahi wajahku. Sungguh, aku mencintaimu lebih dari cinta matahari kepada bumi. Dan bila malam telah semakin larut, saat kamu mungkin sudah terlelap bersama suami dan putri-putrimu, aku tetap menjagamu dengan cintaku, yang sepanjang masa................


16-02-2013