Total Tayangan Halaman

Jumat, 15 Februari 2013

Cinta Sepanjang Masa

Pagi. Aku masih duduk di tepi tempat tidur. Seperti biasa, rutinitasku diawali dari melipat selimut yang berantakan. Selanjutnya dengan susah payah aku berdiri dan tongkat setiaku akan membantuku untuk membereskan tempat tidurku yang sepreinya acak-acakan setelah kupakai tidur semalam. Setelah selesai, aktifitas berikutnya adalah meraih remote kontrol AC yang ada dinding dengan tangan kiri karena tangan kananku tak lagi berfungsi. Tiiittt.... Bila bunyi itu sudah terdengar mantap baru aku puas, artinya AC di kamar ini telah mati. Sementara dari dalam kamar aku mendengar suara denting sendok garpu dan itu artinya kehidupan di rumah ini telah dimulai. 

" Titi... pergi dulu... assalammu'allaikum... " suara seorang remaja setengah berteriak muncul di depan kamar. Cucu sulungku. Aku tersenyum. Setelah itu deru sepeda motor dan suara berderit pintu pagar menandakan dia telah berangkat ke sekolah. Biasanya, tak lama kemudian kamu akan muncul dan dengan tergesa-gesa menyuruhku bersiap-siap ke kamar mandi.
" Ayo bu, mandi sekarang" katamu pendek. Wajahmu terlihat sangat capek. Hari baru dimulai dan kamu sudah terlihat loyo. Namun sejujurnya, aku memang tak pernah melihatmu sumringah setiap pagi, tak pernah melihatmu gembira setiap pagi. Seolah-olah pagi hari adalah hal yang tak kauinginkan untuk datang. Mungkin aku penyebabnya. Mungkin melihatku saja sudah membuatmu lelah. Dan aku tahu, kamu memang lelah. Sudah terlampau lelah. 15 tahun kamu mengurusku. Melepaskan masa mudamu yang seharusnya kau nikmati dengan penuh kisah indah. Merelakan waktumu yang seharusnya bisa kau gunakan untuk pergi ke mana saja tempat yang kau inginkan di muka bumi ini. Aku tahu, itu tidak mudah. Sangat tidak mudah. Sekali waktu, sambil memandikan aku kamu seperti mengeluh, " Waktu ibu seusiaku dulu, ibu ke mana saja?"
Aku diam. Tak bersuara. Memang aku takkan mungkin menjawab pertanyaanmu. Dokter-dokter itu telah memotong syaraf bicaraku sehingga pasca operasi aku tak bisa berkata-kata dengan normal.
" Hampir setiap aku pulang sekolah, ibu tak pernah ada di rumah. Ibu selalu pergi. Dua hari, tiga hari, semingggu bahkan dua minggu..." kamu melanjutkan keluh kesahmu. Aaaahh... Aku baru tahu rupanya kamu dulu tak suka dengan semua rangkaian kegiatanku di organisasi.
" Kadang ibu pulang cuma beberapa hari. Lalu pergi lagi. Saat aku perlu ibu, ibu tidak pernah ada " kamu terus menceracau. Dan wajahmu terlihat sangat murung saat itu.
" Tapi... Sekarang... Aku justru tak bisa kemana-mana... Bahkan kalau aku terpaksa harus pergi aku tidak bisa tenang karena selalu kepikiran ibu dan harus segera pulang..." kamu menghela napas.
Aku masih diam. Sambil memainkan gelembung sabun dengan tangan kiriku aku mencoba untuk memutar kembali waktu yang telah berlalu. Seandainya waktu bisa kembali, aku tentu tak akan mengecewakanmu lagi. Aku akan ada saat kau ingin bercerita tentang cinta pertamamu. Aku akan menyediakan pelukanku saat kau menangis karena patah hati. Aku juga akan ikut sibuk saat kau mempersiapkan pernikahanmu. Aku pasti akan menungguimu di rumah sakit sepanjang hari saat kau melahirkan ketiga putrimu. Namun waktu terus berjalan. Kencang dan tak mau lagi menoleh ke belakang. Tinggallah aku di sini bersamamu. Mengganggu ketenangan keluarga kecilmu dengan rutinitasku yang tak mungkin kulalui seorang diri.

                                                        *****************************

Malam selalu datang menjemput keceriaanmu. Kamu selalu terlihat sedikit gembira menyongsong malam. Aku mengerti. Mungkin saat matahari mulai bersembunyi dalam gelap, saat itulah kamu merasa lega karena semua yang melelahkan ini akan berakhir. Walaupun cuma sementara. Ya, karena besok begitu adzan Subuh kembali berkumandang, bagaikan murid-murid di sekolah dasar yang mendengar bel berdentang maka kamupun akan memulai lagi semua kegiatan ini.
" Ayo bu kita berdoa..." lalu kamu mulai memimpin doa sebelum tidur di sebelahku. Namun malam ini sedikit berbeda dengan biasanya. Kamu tak lagi tergesa-gesa menyalakan AC, memasang obat nyamuk elektrik dan mematikan lampu kamar lalu buru-buru mencium keningku sebelum menutup pintu kamar dan keluar.
Tiba-tiba kamu memegang tangan kananku yang tak lagi berfungsi.
" Maafkan aku bu... Aku belum bisa membahagiakan ibu. Belum bisa menyenangkan hati ibu. Belum bisa menjadi seperti yang ibu inginkan... " suaramu terdengar terbata-bata. Ada kabut di matamu yang kelihatan sudah mengantuk.
" Maafkan aku karena aku pernah kecewa pada ibu. Tapi aku sangat sayang pada ibu. Sungguh.." kamu mulai terlihat sibuk mengusap mata dan pipimu. Aku tersenyum. Aku mencoba mengelus kepalamu dengan tangan kiriku. Tahukah kamu nak, aku juga sangat menyayangi kamu? Tahukah kamu nak, aku tak pernah ingin apa-apa darimu? Tahukah kamu nak, justru akulah yang selalu merasa tak bisa menjadi ibu seperti yang kau inginkan? Tahukah kamu nak, aku juga sangat menyesal tak bersamamu saat kamu tumbuh dan melalui masa-masa indahmu dulu?   Tahukah kamu nak, aku bahkan sangaaaaatttt ingin bisa menyebut namamu yang hanya terdiri dari 3 huruf itu agar kamu mengerti bahwa aku berterima kasih untuk semua waktumu yang tersita untukku.

Lalu kamu mencium keningku. Air matamu ikut turun membasahi wajahku. Sungguh, aku mencintaimu lebih dari cinta matahari kepada bumi. Dan bila malam telah semakin larut, saat kamu mungkin sudah terlelap bersama suami dan putri-putrimu, aku tetap menjagamu dengan cintaku, yang sepanjang masa................


16-02-2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar