Asap rokok yang kau tiup beterbangan di depanku. Menyerupai gumpalan awan putih yang menari-nari di langit yang biru. Biru. Sebiru hatimu. Atau mungkin bahkan sebiru hatiku.
" Aku tak mengerti... Awalnya ini tak pernah menjadi masalah buat kami..." kamu mengeluh. Lagi.
" Lima tahun yang lalu dia bilang ini bukan masalah besar... " kamu melanjutkan.
Aku menenggak minuman di mejaku. Sodanya jadi terasa lebih dingin dari yang kubayangkan. Aku belum ingin menyela kamu. Aku cuma ingin jadi pendengar. Selalu.
" Coba kamu pikir, Ros... Keluargaku sudah datang baik-baik. Kami sudah mengutarakan baik-baik kalau aku ingin melamar anak mereka. Aku tidak menyangka di rumah itu mereka akan menolak aku, mamaku, papaku padahal selama bertahun-tahun aku selalu datang ke rumah itu baik-baik kalau ingin ketemu anak mereka..... " kata-katamu mengalir bagaikan aliran sungai menuju ke hulu. Aku tetap diam.
" Memang mereka pikir aku dan dia ngapain? Memang mereka pikir aku selalu mengantar dan menjemput anak mereka ke mana saja selama lima tahun itu cuma sekedar sebagai teman bermain? Memang mereka pikir aku selalu ada setiap anak mereka membutuhkan aku itu cuma sekedar sebagai sukarelawan? " kamu semakin deras berkata-kata. Hingga aku kesulitan membedakan kamu sedang berkeluh kesah atau justru sedang menceracau.
" Aku tidak habis pikir, Ros. Mereka begitu baik selama ini. Lima tahun. Apakah aku yang salah menafsirkan kebaikan sebuah keluarga kepadaku selama lima tahun? " kamu sepertinya membutuhkan jawaban. Maka setelah menggeser tempat dudukku agar lebih dekat ke meja, akupun mulai berpikir rangkaian kalimat apa yang sebaiknya keluar dari mulutku. Aku tidak ingin membuatmu kecewa dengan kata-kataku yang amburadul. Aku ingin kamu tenang setelah mendengar saranku. Aku ingin kamu tidak lagi bergejolak setelah aku selesai bicara. Tapi... Apa yang harus kukatakan padamu?
" Keyakinan. Hhhhuufff......... Ternyata semua ini tentang keyakinan... " kamu kembali bersuara.
Akupun kehilangan kesempatan menjadi penasehat spiritual terbaikmu. Tapi aku tetap menunggu apalagi yang akan kau katakan. Aku yakin begitu banyak hal berkecamuk dalam dada dan otakmu hingga kamupun kesulitan untuk membedakan mana yang sampah dan mana yang berharga.
" Kamu tahu, Ros, buat aku dan keluargaku, keyakinan itu anugerah bukan masalah. Keyakinan adalah suatu hal berharga yang keluar dari hati dan bukan untuk diperdebatkan. Keyakinan juga bukan warisan turun temurun jadi setiap manusia boleh menguji hatinya sebelum menentukan apa yang akan diyakininya. Ternyata buat mereka dan dia, keyakinan adalah sebuah harga mutlak.... Tak bisa ditawar... Bahkan bila aku bisa mempersembahkan bumi dan langit untuk diapun, mereka tetap akan menolak aku... Karena aku tak bisa mengganti apa yang kuyakini dengan apa yang mereka yakini.." semakin deras kalimat demi kalimat yng kau muntahkan. Maka aku sebaiknya memang cuma jadi tempat sampah saja dan kurasa itu memang yang terbaik untuk saat ini. Tidak ada air mata di pipimu karena aku tahu kamu bukan perempuan. Kamu tak akan menangis melolong-lolong bagai serigala di malam bulan purnama. Kamu juga tak akan berkaca-kaca karena menahan sakit dan kecewa di hatimu yang menganga. Kamu adalah laki-laki yang kuat. Kamu pasti akan tegar setegar gunung es di laut Antartika. Maka akupun tak perlu menggenggam tanganmu untuk memberimu kekuatan. Aku juga tak perlu merelakan bahuku untuk memberimu ketenangan. Tak perlu. Walaupun aku ingin. Maka malam inipun berakhir tanpa derai air mata. Maka malam inipun berlalu seperti yang sudah-sudah. Saat rokok dalam kotak yang kau bawa telah habis menjadi gumpalan awan maka kamupun pulang. Pergi meninggalkan aku dalam kesunyian. Selalu begitu. Selalu.
***************************************
Aku memandang wajah laki-laki itu dalam cermin di hadapanku. Rasanya semua sudah rapi. Aku selalu ingin punya cambang, kumis tipis dan janggut di wajahku. Tapi entah mengapa, aku selalu merasa tak sesuai dengan bentuk mukaku. Malam ini adalah malam kesekian kalinya kamu mengajakku bertemu. Pastilah untuk mendengar keluh kesahmu lagi. Peristiwa gagalnya acara lamaranmu saat kamu meminang Yeni, pacarmu sejak lima tahun yang lalu, seakan-akan adalah berita buruk kepada dunia, sehingga kamu sepertinya merasa perlu mengatakannya berulang-ulang selama bermalam-malam kepadaku. Sebetulnya, aku tak suka tema pertemuan semacam ini. Aku merasa cuma diperlukan sebagai kantong plastik yang saat terbuka harus siap menerima muntahan pembukanya saja. Aku bosan mendengar cerita yang sama harus kudengar berkali-kali dengan intonasi yang sama pula. Aku capek harus jadi perokok pasif yang jelas itu sangat membahayakan kesehatan paru-paruku karena harus duduk di depanmu saat kamu menyedot rokokmu sampai kemasannya lumat. Tapi kamu membutuhkan aku. Kamu membutuhkan aku untuk menjadi telinga ketiga dan keempatmu, mendengar, menampung dan menelan semua yang keluar dari mulutmu. Mulai dari pujian, keluhan hingga sumpah serapah. Dan itupun sudah terjadi lebih dari lima tahun. Lebih lama dari saat kamu mengenal dan berpacaran dengan Yeni. Lebih lama. Tapi kamu tak pernah meraba hatiku. Kamu tak pernah tahu sesuatu yang kusimpan jauh-jauh dan kukunci rapat-rapat dalam sanubariku yang dalam. Terdalam. Aku tak ingin merusak komitmen di antara kita. Persahabatan. Biarlah, cuma aku yang tahu. Kamu, tak perlu.
Aku sudah memarkir motorku di halaman parkir cafe langganan kita. Sejak kita kuliah sampai bekerja kita selalu menghabiskan waktu di cafe ini. Soda menjadi pilihanku dan kopi dengan krim dan gula coklat selalu menjadi favoritmu. Aku melangkah masuk dan membayangkan kamu pasti sedang bermain gumpalan awan putih seperti biasa. Tapi langkahku tercekat. Ternyata tidak untuk saat ini. Perempuan di depanmu terlihat sembab dan berlinang air mata. Kedua tangannya menyangga kepala. Mungkin beban kepalanya kebanyakan sehingga kelihatan begitu berat. Aku melangkah maju pelan-pelan. Aaaahh.. aku tak habis pikir mengapa kamu menyuruhku datang ke tempat ini dalam keadaan yang tidak biasa... Aku bingung. Harus memenuhi undanganmu untuk menemui kamu seperti yang kau tulis dalam messengermu atau membalikkan badan dan pulang. Tiba-tiba kamu menoleh ke belakang. Sedetik kemudian kamu melambaikan tangan menyuruhku datang. Akupun mendekati meja kalian berdua.
" Hai, Ros... Apa kabar? " perempuan itu, Yeni namanya, menyapaku dengan suaranya yang masih diiringi sedu sedan. Akupun tersenyum lalu menarik kursi di sebelahmu.
" Kabar baik " jawabku sambil mencoba tersenyum lagi.
" Yeni bilang, dia akan menikah bulan dua belas... " kamu memecah keheningan. Suaramu terdengar tawar. Aku memandang perempuan di hadapanmu. Yeni memang tampak begitu lembut. Penampilannya bersahaja dan sopan. Jelas, dia adalah perempuan baik-baik dan terhormat. Aku salut padamu. Kamu memilih seseorang yang tepat untuk kau hujani dengan cinta dan perhatian bahkan kepedihan.
" Ooohh " aku menghela napas. Tak punya pilihan kata-kata untuk menimpali pembicaraan.
" Pulanglah, Yen... Sudah tak ada gunanya lagi kita bersama-sama seperti dulu. Aku tidak mau kita menikah tanpa restu orang tua. Aku tidak ingin mengawali rumah tangga dengan kebencian. Apalagi jika kebencian itu datangnya dari orang tua. Jangan, Yeni.. " kamu mulai memecah keheningan.
" Tapi aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak kucintai... Aku ingin kita, bukan dia.. " perempuan yang kau cintai juga bersuara. Isak tangispun kembali pecah walaupun begitu pelan, begitu lembut.
" Mengapa kita ada di dua jalan yang berbeda.. Mengapa kita tidak bisa menyatukan dua jalan itu di ujungnya... Mengapa kamu ada di sini dan aku ada di sana... " perempuan itu menelurkan pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu dijawab karena mungkin memang tak pernah ada jawabannya.
" Aku... Ikhlas... Jika memang menurut ibu dan bapakmu itu bisa membuatmu bahagia, aku yakin, pasti akan seperti itu kenyataannya... Percayalah, Yen... " kamu mengusap tangan perempuan itu.
" Pulanglah, Yen... Beri aku undangannya.. Aku dan Erros pasti akan datang... Tanggal dua puluh dua kan? " kamu begitu kuat. Begitu tenang. Seolah-olah kamu minta diundang ke acara ulang tahun ke tujuh belas seorang anak es-em-a saja. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Heran. Beberapa menit kemudian kamupun mengantar perempuan itu ke pintu keluar. Aku memandang punggungmu dan punggungnya dari kejauhan. Patah. Pasti berkeping-keping. Hancur. Pasti berantakan. Kubayangkan hatimu terbuat dari kristal dan seseorang membantingnya. Walaupun dibanting dengan lembut tapi pasti kristal itu akan cerai berai. Dua jalan. Seperti itulah jalanmu dan jalannya. Mungkin bahkan tiga. Karena ada aku di jalan berikutnya. Tiga jalan yang tak akan bisa menyatu di ujung-ujungnya. Semua karena keyakinan, seperti yang sering kau katakan. Bahkan walaupun aku mungkin menyayangi kamu lebih lama dari perempuan itu, aku tetap tak bisa menyatukan jalan kita. Karena aku tahu kamu pasti akan menolakku. Karena aku tahu kamu pasti menjawab keyakinan kita tak akan memperbolehkan jalanku dan jalanmu menyatu. Seperti jalanmu dan jalannya. Biarlah tiga jalan itu mengikuti arah dan kelokannya masing-masing. Mungkin memang tak digariskan itu bertemu di satu titik, namun setidaknya mampu memberikan warna bagi hidup kami masing-masing.
06-04-2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar