Mungkin buatmu, sembilan tahun meninggalkan aku bukanlah hal yang sulit. Toh kamu bisa saja bilang, takdirlah yang telah memisahkan kita sebagaimana dia mempertemukan kita pada mulanya. Aku selalu tahu bahwa hidup selalu punya kejutan bagi setiap manusianya. Namun aku tak pernah menyangka bahwa kejutan yang seperti inilah yang harus kuterima. Berpisah denganmu setelah pertemuan dan kebersamaan kita yang dijatah oleh pemilik kehidupan cuma delapan belas bulan saja.
********************
Malam yang seharusnya hening. Tapi tangisanmu tak juga reda. Bahkan setelah kita pulang dari tempat praktek dokter langgananmu dan kamupun sudah minum obat sesuai resep yang tertera. Badanmu tetap demam. Tinggi. Jarum di termometer hampir menyentuh angka empat puluh. Aku resah. Gelisah. Tak pernah kamu sepanas ini. Dibanding kakakmu yang sakit-sakitan sejak bayi, kamu hampir-hampir tak pernah sakit sejak lahir hingga malam ini. Aku mencoba untuk tidur. Tapi tak bisa. Mana bisa seorang ibu tertidur jika anaknya sedang sakit? Apalagi disertai demam dan dokter yang kuberondong pertanyaan berbalut kecemasan karena demammu sudah masuk hari ke-empat hanya menjawab tenang, " Putri ibu cuma radang tenggorokan biasa.."
" Dik, tidurlah... Biar aku yang menjaga Fafa" suamiku menyuruhku untuk berbaring.
Aku menggeleng, " Nggak mas... Dia panas.. " keluhku.
Hingga fajar menyingsing, aku memang tak sempat memejamkan mata walau sejenak. Demam Fafa memang tak kunjung turun. Bahkan untuk sarapan bubur kegemarannya dia tak mau. Tangisnya makin menjadi-jadi. Fafa cuma mau susu saja. Sejak malam hingga pagi dia sudah menghabiskan lima botol dot ukuran dua ratus empat puluh mili. Mungkin dokter benar, radang tenggorokannya membuat tenggorokannya kering sehingga dia cenderung hanya mau minum susu saja.
" Biar hari ini aku nggak usah kerja ya..." suamiku berkata dengan nada bertanya.
" Jangan mas... Nggak apa-apa.. Setelah Fafa minum puyernya mas berangkat saja. Mudah-mudahan siang nanti demamnya sudah turun" sergahku. Aku ini ibunya, masa aku tidak mampu menjaga anakku yang cuma radang tenggorokan biasa? Hatiku menggerutu. Meski mataku berat luar biasa. Dan setelah punggung suamiku tak nampak lagi maka akupun tinggal di rumah bersama Fafa dan kakaknya, sulungku.
Seperti kebanyakan ibu dan anak-anaknya yang masih balita, kamipun bermain seperti biasa. Walaupun demam tingginya belum turun Fafa tetap gembira main petak umpet dengan aku dan kakaknya. Namun tawa kami tiba-tiba lenyap karena Fafa mendadak rewel.... Jari telunjuknya sibuk menunjuk-nunjuk ke langit-langit kamar kami.... Dia menangis, menangis dan menangis... Aku dan sulungku kebingungan. Aku sibuk menggendong Fafa hilir mudik keluar masuk kamar... Sepertinya Fafa keberatan untuk tetap di kamar. Dia masih menunjuk-nunjuk ke langit-langit seperti tadi.
" Ada apa dik? Ada apa? " sulungku bertanya dengan wajah bingung karena di langit-langit tak ada apapun kecuali lampu kamar yang padam karena hari belum gelap. Bagaikan terkena badai hatiku tiba-tiba merasa kaget dengan perubahan yang terjadi pada Fafa. Secara mendadak tubuhnya mengejang. Kaku. Matanya redup. Dan kurasakan panas tubuhnya menjadi dingin. Aku melihat telapak kakinya. Biru. Ya Allah!!! Seperti manusia kesurupan aku keluar rumah dan berteriak memanggil siapa yang bisa kupanggil. Dan dalam sepersekian menit aku sudah berada di dalam mobil tetangga menuju rumah sakit terdekat. Waktu berjalan cepat saat itu. Hingga akhirnya............
" Dik, ikhlaskan ya... Anak kita sudah pergi...... " suamiku yang tertunduk lesu di sebelahku di ruang ICU menatap dokter yang telah melepas alat bantu pernapasan dari tubuh Fafa. Pneumonia. Nyaris selama empat hari sepuluh jam Fafa berjuang melawan penyakit yang tak terdeteksi itu. Entahlah bagaimana dokter jaman sekarang, penyakit seberat itu kok tak bisa tercium gelagatnya. Aku ingin marah tapi buat apa? Pada siapa?
Sejenak aku merasa duniaku runtuh. Aku ditimpa bumi. Aku ditelan lautan. Aku dihanguskan oleh gunung berapi. Aku lemas. Dan saat aku ingat aku sudah terbaring dalam kamar yang lain. Aku segera keluar. Aku ingin lihat Fafa. Aku ingin memastikan dia memang sudah tak ada. Dia sudah pergi. Dan setelah itu tentu segalanya tak lagi sama seperti tadi pagi, seperti kemarin, seperti dulu. Kamu bahkan belum bisa memanggilku, ibu, saat itu.
Rasanya aku masih bermain bersamamu hari ini. Aku masih mencium bau rambutmu, wangi tubuhmu dan pipi tembemmu, Aku masih menyimpan sejuta cita-citaku untuk masa depanmu. Bila gundukan tanah rumah barumu ini tiba-tiba terbuka mungkin aku akan masuk dan meraihmu kembali.
Dan kini aku cuma bisa dicekam rindu bila mengingatmu.
Rindu setengah mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar